Mommy and Ca (1)

me, mom, n brother
Kalau ada lomba siapa yang paling juara di hati saya, yakinlah cuma ibu jawabannya. Klise? yah.. siapa juga sih yang tidak megidolakan ibunya sendiri. Saya termasuk salah satu anggota geng mommy fans club itu. Bukan hanya karena beliau yang sudah merawat saya sejak kecil, tetapi juga karena di sela-sela kesibukannya sebagai supermom, tak letihnya juga beliau berjuang melawan sel ganas yang menggerogoti tubuhnya.

Yes.. my mommy's got cancer. Diagnosa Ca mammae dan Ca OV tertulis di rekam medisnya yang tersimpan di bbrp rumah sakit di kota kami. She's one of the woman that struggling herself without breast and uterus anymore. She's got two cycle of chemotherapy and 1 cycle of radiotherapy. But Thanks God, Beliau baik-baik saja saat ini. :)

Terlihat baik-baik saja mungkin lebih tepatnya. Saya tidak pernah sekalipun berharap sel kanker itu diam-diam tumbuh lagi di dalam sana merusak sel-sel tubuhnya yang sudah lelah terkena hempasan bahan kimia. Begitu juga Ibu, karena itu beliau rutin melakukan check up. 

Sudah setahun berlalu sejak kemonya yang terakhir, kemo yang selalu jadi mimpi buruk bukan hanya untuknya tapi juga untuk kami di rumah. Physically Ibu terlihat sangat sehat sekarang, namun sayangnya hasil lab berkata lain. Ca marker 125 yang ditunjuk oleh dokter sebagai panduan diagnosa trennya meningkat selama 3 bulan terakhir. Dua dokter sampai terhenyak, mereka mengatakan sesuatu yang kedengarannya seperti masih ada monster di tubuh ibuku. masih ada sel kanker.. yang belum terlihat dan entah bersembunyi di mana.  Ibu kaget, saya juga, semua orang rumah paham bahwa itu berarti harus ada kemoterapi lagi.

Terhenyak, rasanya tidak akan sanggup melihat Ibu kesakitan lagi setiap pulang kemoterapi. Tidak akan pernah siap untuk mencukur gundul rambutnya lagi karena rontok dan cuma bersisa di sana sini. Saya sungguh cuma melongo, sungguh cuma itu satu-satunya jalan? 

Saya berkata seperti orang bego, berteriak dalam hati apa Ibu hanya boleh menikmati kebahagiannya setahun saja? Keilmuan saya seperti menguap entah kemana sampai seorang  teman menjelaskan pelan-pelan. Meskipun pengalaman masih cetek harusnya saya sadar marker Ca yang masih tinggi itu mungkin menunjukkkan obat kemo yang tidak responsif terhadap sel kankernya, sehingga biasanya akan diusahakan dengan obat kemo jenis yang lain. dan betul, tidak ada yang pernah menjamin seseorang bisa sembuh 100 % dari kanker. 

Di tengah kekalutan saya, Ibu mungkin saja jauh lebih gelisah, tapi beliau tetap terlihat tegar bahkan saat menceritakan berita ini pada saya. Batin saya boleh terluka, tapi saya tidak boleh terlarut. Saya sadar dorongan keluarga sangat penting untuk Ibu saat ini. Saya harus legowo. Saya harus percaya bahwa kemoterapi untuk Ibu adalah salah satu wujud ikhtiar untuk memperpanjang angka harapan hidup hingga 5 tahun kedepan seperti yang dokter katakan. 


tidak datang cobaan kepada seseorang, selain untuk meningkatkan derajatnya.. bila dia bersabar.
 

Comments

Popular Posts