Farmasis di negeri ottoman : Sebuah catatan perjalanan
Dinginnya udara malam Istanbul menyambut kedatangan kami di Turkiye Cumhuriyeti. Melewati 14 jam perjalanan udara ternyata belum cukup,
kami harus menempuh 12 jam lagi perjalanan darat untuk mencapai Kota Kayseri. Di
sinilah tempat salah satu impian kami kemudian berubah menjadi kenyataan.
Mendapat kesempatan untuk mengikuti program student exchange dahulu hanya merupakan mimpi bagi saya. Namun sekarang
semuanya berada di depan mata; tarian sufi, blue
mosque, ayasofia, paras tampan dan cantik campuran ras eropa-arab, musim
panas, gunung salju, semuanya tidak lagi hanya bisa dilihat di layar kaca. Yang
paling penting akhirnya saya dapat melihat kehidupan farmasis di negara lain
secara langsung.
Well, here the story goes....
Minggu pertama kami berkesempatan untuk berkeliling di
Fakultas Farmasi Universitas Erciyes, Kayseri. Fakultas Farmasi di universitas
ini termasuk salah satu fakultas muda yang progresivitasnya sangat tinggi. Sama
seperti kita, mereka harus menempuh pendidikan selama 5 tahun untuk kemudian
bisa mendapatkan gelar farmasis. Ibu wakil dekan yang baik menunjukkan kepada
kami satu persatu laboratorium yang ada di dalamnya. Walaupun termasuk fakultas
baru, fasilitas yang ada tidak kalah dengan kampus kita. Bedanya laboratorium
di sini lebih terlihat bersih serta beberapa alat jumlahnya lebih banyak
sehingga lebih mengakomodasi kebutuhan mahasiswa.
Karena tidak banyak difokuskan untuk menghasilkan farmasis
di bidang industri pihak kampus memaksimalkan mahasiswa agar bisa mendapatkan
ilmu yang lebih mendalam di bidang komunitas dan rumah sakit. Pada libur musim
panas setelah semester 4 misalnya, mahasiswa sudah diwajibkan untuk magang di
apotek-apotek yang telah ditunjuk oleh kampus, sedangkan pada semester 8 mahasiswa
diberikan kesempatan untuk merasakan atmosfer kerja farmasis di rumah sakit
selama 1 bulan.
Rumah sakit pendidikan milik Erciyes University memiliki
farmasis di setiap instalasi yang ada sebagai penanggungjawab atas pengadaan
dan pengelolaan obat. Mekanismenya hampir sama seperti rumah sakit di Indonesia
pada umumnya, ada satu depo sebagai pusat yang mensuplai sub-sub farmasi. Permintaan
obat-obat yang dibutuhkan setiap instalasi masuk ke depo secara online melalui
intranet rumah sakit. Di sini kami bertemu banyak mahasiswa yang sedang
melakukan internship. Pada instalasi tertentu seperti onkologi ada visite farmasis untuk melakukan terapi
obat secara langsung kepada pasien. Rumah sakit juga memiliki staf farmasis
khusus yang bertugas menentukan terapi obat pada pasien termasuk berdiskusi
dengan dokter untuk memberikan terapi yang terbaik. Mereka menyebut staf ini clinical pharmacist. Di negara ini
dokter tidak dibolehkan melakukan dispensing, dan ranah keprofesian
masing-masing tenaga kesehatan sangat jelas batas-batasnya.
Di Turki mahasiswa yang lulus tidak perlu melakukan uji
kompetensi untuk mendapatkan hak membuka apotek. Karena itu ada banyak sekali apotek
yang bisa ditemui di mana saja. Apotek di sini disebut Eczane, dan farmasis
yang bekerja di dalamnya sangat dihormati sesuai profesinya.
Mengunjungi dua apotek di tengah kota seharian cukup
melelahkan ternyata di tengah matahari musim panas yang menyengat kala itu. Tetapi
kami merasa beruntung sekali dapat belajar banyak tentang farmasi komunitas
negara ini. Pada jam Eczane buka, farmasis berjas putih selalu siap melayani
pasien dalam rangka memegang teguh prinsip no
pharmacist no service. Perlu diketahui setiap warga di Turki mendapatkan
asuransi kesehatan yang juga berlaku untuk pembiayaan obat. Setiap resep yang diberikan
dari rumah sakit atau dokter biasanya telah ditempel stiker yang berisi nomor
kode. Nomor kode ini jika dimasukkan ke dalam program yang ada di apotek maka
farmasis akan mengetahui tentang data diri pasien dan data untuk klaim asuransi
secara otomatis terkirim kepada pemerintah untuk mengganti biaya pengobatannya.
Selanjutnya pasien akan mendapatkan obat yang dibutuhkan dan copy resep yang
dicetak oeh komputer menjadi arsip milik Eczane. Semua program komputerisasi
apotek ini disiapkan khusus oleh pemerintah. Selain itu, setiap obat di Turki
memiliki barcode khusus yang berbeda untuk setiap apoteknya. Obat-obat
berbarcode khusus ini juga disuplai oleh pemerintah melalui distributor. Sementara
itu ruang peracikan biasanya disediakan khusus di lantai bawah tanah, namun
saat ini penggunaannya sudah sangat jarang.
Selain mengunjungi farmasis-farmasis di rumah sakit dan
apotek, kami juga berkontribusi membantu penelitian yang sedang dilakukan di DEKAM
(Hakan Çetinsaya Deneysel ve Klinik Araştırma Merkezi) sebuah
research centre milik kampus. Senang rasanya bisa membantu dan bertukar pikiran
dengan peneliti-peneliti master dan doktoral yang sedang bekerja di sana. Selain
itu kami juga melihat proses clinical
trial obat phase II dan Phase III di lembaga penelitian ini. Iklim
kademis yang sangat akrab sejujurnya agak mencengangkan untuk kami dan karenanya
setiap orang menyambut kami dengan sangat ramah. Dosen-dosen yang sangat
bersahabat tidak segan menyuguhkan teh untuk mahasiswa saat berdiskusi di
ruangannya, juga untuk sekedar makan siang bersama di taman.
Satu lagi yang tidak boleh tertinggal, exchange program tidak hanya sekedar
mempelajari bagaimana kehidupan farmasis di negara lain tetapi juga ikut
menyelami masyarakat dan eksotisme budaya setempat. Seperti ketika kami takjub
akan budaya nge-cay warga Turki yang
selalu menyuguhkan teh panas di setiap kesempatan. Tak perduli saat itu musim
panas dan suhu diatas 38o C, bukan masalah bagi mereka menenggak
sampai puluhan gelas teh setiap harinya. Atau mengingat tampang bodoh kami
ketika memesan mineral water yang
ternyata adalah plain soda, juga betapa
kangennya kami pada nasi karena setiap hari makan pokok kami adalah ekmek (roti). Pun kami sangat bersyukur
melaksanakan program di negara yang nilai historisnya sangat tinggi, dimana
warga dan pemerintahnya secara sukarela bergotong royong untuk menjaga
nilai-nilai sejarah yang tertinggal.
Kurang dari tiga minggu akhirnya kami harus
mengakhiri program dan kembali ke tanah air. Ada banyak yang dapat dibawa
pulang dan patut dicontoh oleh farmasis kita seperti sistem farmasi komunitas
yang lebih teratur dan sudah terkomputerisasi, juga mengenai konsistensi
farmasis di apotek. Besar harapan kami farmasis di Indonesia dapat terus
berkembang menuju ke arah yang lebih
baik. Ternyata tidak ada salahnya melihat the
other side of the world dan keluar dari zona nyaman yang melenakan. Berani?
Dream it, believe it, and keep struggling for it.
Dream it, believe it, and keep struggling for it.
Comments
Post a Comment