IRD tengah malam

Jarum jam menunjukkan pukul 23.58 ketika saya dan Rian memutuskan bergegas ke Instalasi Rawat Darurat. TEman satu kos kami kecelakaan, seorang teman datang bersama gerobak membawa sepeda motornya yang agak ringsek sebelah. 

Lutut saya lemas rasanya, melihat kondisi motor yang lumayan ringsek begitu, bagaimana kondisi teman saya? Beruntung kata teman dia tidak apa-apa, walaupun lawan yg entah ditabrak atau tertabrak itu agak lebih parah kondisinya. Sesampainya di IRD, sang teman yg menjadi korban ini sudah dikerubutin banyak bapak-bapak. tak tega saya. Salah satu dari mereka ternyata yg menjadi korban, dan agaknya tidak cukup puas sudah diberi pengobatan pertama di IRD.  

Tidak jelas siapa yang bisa dipersalahkan, kondisi motor bapak tersebut sedang melaju sangat kencang ketika bertabrakan dengan teman saya yang notabene melaju dengan kecepatan rendah kata banyak saksi mata.  Namun sang Bapak tidak mau begitu saja dipersalahkan. Walaupun begitu, bapak terlihat agak lebih parah kondisinya karena terus memegangi perutnya, yang mungkin memang masih sakit. 

"apa kata dokter Den ttg Bapaknya?" saya bertanya,
"syok aja katanya Fi, nggak parah kok Bapaknya. Cuma ini bapaknya minta KTPku, katanya kalau penyakitnya lebih parah dia bisa minta ganti rugi. juga sekalian ganti rugi sepeda motornya, tapi motorku sendiri juga rusak parah. Aku tinggalin nomor telepon ndak mau." sang teman menjawab.

Kami di sana berenam, orang-orang beranjak dewasa usia 20-an ini harus beradu argumen dengan lima bapak-bapak paruh baya yang bertampang sangar-sangar itu. Bukannya tidak ingin bertanggung jawab, tetapi kami tanpa orang dewasa yang bisa dimintai pertimbangan memilih untuk tidak mengambil resiko dengan memberikan KTP atau SIM. Berusaha mencari jalan tengah, sang Bapak kemudian menyebutkan nominal 400.000 rupiah sebagai ganti rugi. 

Ditulung mentung.
Terlintas paribasan jawa di kepala saya. Dalam kondisi yang tidak seharusnya dipersalahkan, teman saya sudah rela menanggung biaya pengobatan di IRD, tetapi rasanya kecewa sekali begitu mendengar nominal yang disebutkan sang Bapak. Bukan apa-apa, 400 ribu itu akan sangat lebih dari cukup untuk memperbaiki motornya. Juga kami hanyalah mahasiswa yang belum menghasilkan uang sendiri.
Akhirnya merogoh kantong kami masing-masing, kami memilih untuk tidak memperumit suasana. Teman laki-laki kami memutuskan untuk mengantarkan sang Bapak ke rumah dan mengganti sesuai yang diminta. Kalau ada apa-apa sudah dtinggalkn nomor telepon yang bisa dihubungi. 

Pukul 01.10 saya pulang dengan perasaan berkecamuk, antara kesal dan iba. kesal karena kecewa atas sikap sang Bapak, tetapi sekaligus iba. Biarpun begitu, setidaknya sdh ada tanggung jawab dan niat baik dari teman saya, semoga semua baik-baik saja. Amin.

Ternyata kebenaran tak selalu bisa menang, niat baik pun tak selalu disambut uluran tangan dengan ikhlas. dilematis ya kawan? 

Comments

Popular Posts